BAHAYA EKSTASI PADA KESEHATAN REMAJA

Narkoba dan Bahaya Pemakaiannya di Kalangan Remaja
By capi23

Apa yang disebut NARKOBA

Narkoba (singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif berbahaya lainnya) adalah bahan/zat yang jika dimasukan dalam tubuh manusia, baik secara oral/diminum, dihirup, maupun disuntikan, dapat mengubah pikiran, suasana hati atau perasaan, dan perilaku seseorang. Narkoba dapat menimbulkan ketergantungan (adiksi) fisik dan psikologis.

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan (Undang-Undang No. 22 tahun 1997). Yang termasuk jenis Narkotika adalah :

• Tanaman papaver, opium mentah, opium masak (candu, jicing, jicingko), opium obat, morfina, kokaina, ekgonina, tanaman ganja, dan damar ganja.

• Garam-garam dan turunan-turunan dari morfina dan kokaina, serta campuran-campuran dan sediaan-sediaan yang mengandung bahan tersebut di atas.

Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan perilaku (Undang-Undang No. 5/1997). Zat yang termasuk psikotropika antara lain:

• Sedatin (Pil BK), Rohypnol, Magadon, Valium, Mandarax, Amfetamine, Fensiklidin, Metakualon, Metifenidat, Fenobarbital, Flunitrazepam, Ekstasi, Shabu-shabu, LSD (Lycergic Alis Diethylamide), dsb.

Bahan Adiktif berbahaya lainnya adalah bahan-bahan alamiah, semi sintetis maupun sintetis yang dapat dipakai sebagai pengganti morfina atau kokaina yang dapat mengganggu sistim syaraf pusat, seperti:

• Alkohol yang mengandung ethyl etanol, inhalen/sniffing (bahan pelarut) berupa zat organik (karbon) yang menghasilkan efek yang sama dengan yang dihasilkan oleh minuman yang beralkohol atau obat anaestetik jika aromanya dihisap. Contoh: lem/perekat, aceton, ether, dsb.

Jenis Narkoba menurut efeknya

Dari efeknya, narkoba bisa dibedakan menjadi tiga:

1. Depresan, yaitu menekan sistem sistem syaraf pusat dan mengurangi aktifitas fungsional tubuh sehingga pemakai merasa tenang, bahkan bisa membuat pemakai tidur dan tak sadarkan diri. Bila kelebihan dosis bisa mengakibatkan kematian. Jenis narkoba depresan antara lain opioda, dan berbagai turunannya seperti morphin dan heroin. Contoh yang populer sekarang adalah Putaw.

2. Stimulan, merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan serta kesadaran. Jenis stimulan: Kafein, Kokain, Amphetamin. Contoh yang sekarang sering dipakai adalah Shabu-shabu dan Ekstasi.

3. Halusinogen, efek utamanya adalah mengubah daya persepsi atau mengakibatkan halusinasi. Halusinogen kebanyakan berasal dari tanaman seperti mescaline dari kaktus dan psilocybin dari jamur-jamuran. Selain itu ada jugayang diramu di laboratorium seperti LSD. Yang paling banyak dipakai adalah marijuana atau ganja.

Penyalahgunaan Narkoba

Kebanyakan zat dalam narkoba sebenarnya digunakan untuk pengobatan dan penefitian. Tetapi karena berbagai alasan – mulai dari keinginan untuk coba-coba, ikut trend/gaya, lambang status sosial, ingin melupakan persoalan, dll. – maka narkoba kemudian disalahgunakan. Penggunaan terus menerus dan berianjut akan menyebabkan ketergantungan atau dependensi, disebut juga kecanduan.

Tingkatan penyalahgunaan biasanya sebagai berikut:

1.
coba-coba
2.
senang-senang
3.
menggunakan pada saat atau keadaan tertentu
4.
penyalahgunaan
5.
ketergantungan

Dampak penyalahgunaan Narkoba

Bila narkoba digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan. Kecanduan inilah yang akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem syaraf pusat (SSP) dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal.

Dampak penyalahgunaan narkoba pada seseorang sangat tergantung pada jenis narkoba yang dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisi pemakai. Secara umum, dampak kecanduan narkoba dapat terlihat pada fisik, psikis maupun sosial seseorang.

Dampak Fisik:

1. Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi

2. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah

3. Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim

4. Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru

5. Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur

6. Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan padaendokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron, testosteron), serta gangguan fungsi seksual

7. Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan amenorhoe (tidak haid)

8. Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya

9. Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over dosis bisa menyebabkan kematian

Dampak Psikis:

1. Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah

2. Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga

3. Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal

4. Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan

5. Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri

Dampak Sosial:

1. Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan

2. Merepotkan dan menjadi beban keluarga

3. Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram

Dampak fisik, psikis dan sosial berhubungan erat. Ketergantungan fisik akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa (sakaw) bila terjadi putus obat (tidak mengkonsumsi obat pada waktunya) dan dorongan psikologis berupa keinginan sangat kuat untuk mengkonsumsi (bahasa gaulnya sugest). Gejata fisik dan psikologis ini juga berkaitan dengan gejala sosial seperti dorongan untuk membohongi orang tua, mencuri, pemarah, manipulatif, dll.

Bahaya bagi Remaja

Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa. Perkembangan seseorang dalam masa anak-anak dan remaja akan membentuk perkembangan diri orang tersebut di masa dewasa. Karena itulah bila masa anak-anak dan remaja rusak karena narkoba, maka suram atau bahkan hancurlah masa depannya.

Pada masa remaja, justru keinginan untuk mencoba-coba, mengikuti trend dan gaya hidup, serta bersenang-senang besar sekali. Walaupun semua kecenderungan itu wajar-wajar saja, tetapi hal itu bisa juga memudahkan remaja untuk terdorong menyalahgunakan narkoba. Data menunjukkan bahwa jumlah pengguna narkoba yang paling banyak adalah kelompok usia remaja.

Masalah menjadi lebih gawat lagi bila karena penggunaan narkoba, para remaja tertular dan menularkan HIV/AIDS di kalangan remaja. Hal ini telah terbukti dari pemakaian narkoba melalui jarum suntik secara bergantian. Bangsa ini akan kehilangan remaja yang sangat banyak akibat penyalahgunaan narkoba dan merebaknya HIV/AIDS. Kehilangan remaja sama dengan kehilangan sumber daya manusia bagi bangsa.

Apa yang masih bisa dilakukan?

Banyak yang masih bisa dilakukan untuk mencegah remaja menyalahgunakan narkoba dan membantu remaja yang sudah terjerumus penyalahgunaan narkoba. Ada tiga tingkat intervensi, yaitu

1. Primer, sebelum penyalahgunaan terjadi, biasanya dalam bentuk pendidikan, penyebaran informasi mengenai bahaya narkoba, pendekatan melalui keluarga, dll. Instansi pemerintah, seperti halnya BKKBN, lebih banyak berperan pada tahap intervensi ini. kegiatan dilakukan seputar pemberian informasi melalui berbagai bentuk materi KIE yang ditujukan kepada remaja langsung dan keluarga.

2. Sekunder, pada saat penggunaan sudah terjadi dan diperlukan upaya penyembuhan (treatment). Fase ini meliputi: Fase penerimaan awal (initialintake)antara 1 – 3 hari dengan melakukan pemeriksaan fisik dan mental, dan Fase detoksifikasi dan terapi komplikasi medik, antara 1 – 3 minggu untuk melakukan pengurangan ketergantungan bahan-bahan adiktif secara bertahap.

3. Tertier, yaitu upaya untuk merehabilitasi merekayang sudah memakai dan dalam proses penyembuhan. Tahap ini biasanya terdiri atas Fase stabilisasi, antara 3-12 bulan, untuk mempersiapkan pengguna kembali ke masyarakat, dan Fase sosialiasi dalam masyarakat, agar mantan penyalahguna narkoba mampu mengembangkan kehidupan yang bermakna di masyarakat. Tahap ini biasanya berupa kegiatan konseling, membuat kelompok-kelompok dukungan, mengembangkan kegiatan alternatif, dll.

Add a comment Juni 3, 2010

AKIBAT BAHAYA BERZINA PADA REMAJA

Bahaya dan Akibat Buruk Zina

Posted by nurjeehan in Akhlak & Adab, Kehidupan Sosial, Petua & Amalan, Tafakur (Muhasabah), Taubat, Tazkirah. 56 Comments

ZINA merupakan kejahatan yang sangat besar yang memberi kesan amat buruk kepada penzina itu sendiri, khususnya dan kepada seluruh umat amnya. Di zaman sekarang di mana banyaknya saluran dan media yang berusaha menyeret kearah perbuatan keji ini, maka amat perlu untuk setiap orang mengetahui bahaya dan akibat buruk yang timbul dari dosa zina. Kita semua hendaklah lebih berhati-hati dan berwaspada agar tidak terjerumus, hatta, walaupun hanya mendekatinya.

Di antara akibat buruk dan bahaya tersebut adalah :

* Dalam zina terkumpul bermacam-macam dosa dan keburukan yakni berkurangnya agama si penzina, hilangnya sikap wara’ (menjaga diri dari dosa), buruk keperibadian dan hilangnya rasa cemburu.

* Zina membunuh rasa malu, padahal dalam Islam malu merupakan suatu hal yang amat diambil berat dan perhiasan yang sangat indah khasnya bagi wanita.

* Menjadikan wajah pelakunya muram dan gelap.

* Membuat hati menjadi gelap dan mematikan sinarnya.

* Menjadikan pelakunya selalu dalam kemiskinan atau merasa demikian sehingga tidak pernah merasa cukup dengan apa yang diterimanya.

* Akan menghilangkan kehormatan pelakunya dan jatuh martabatnya baik di hadapan Allah mahupun sesama manusia.

* Allah akan mencampakkan sifat liar di hati penzina, sehingga pandangan matanya liar dan tidak terkawal.

* Pezina akan dipandang oleh manusia dengan pandangan mual dan tidak percaya.

* Zina mengeluarkan bau busuk yang mampu dihidu oleh orang-orang yang memiliki ‘qalbun salim’ (hati yang bersih) melalui mulut atau badannya.

* Kesempitan hati dan dada selalu meliputi para pezina. Apa yang ia dapati dalam kehidupan ini adalah sebalik dari apa yang diingininya. Ini adalah kerana, orang yang mencari kenikmatan hidup dengan cara bermaksiat kepada Allah maka Allah akan memberikan yang sebaliknya dari apa yang dia inginkan, dan Allah tidak menjadikan maksiat sebagai jalan untuk mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan.

* Penzina telah mengharamkan dirinya untuk mendapat bidadari yang jelita di syurga kelak.

* Perzinaan menyeret kepada terputusnya hubungan silaturrahim, derhaka kepada orang tua, pekerjaan haram, berbuat zalim, serta menyia-nyiakan keluarga dan keturunan. Bahkan boleh membawa kepada pertumpahan darah dan sihir serta dosa-dosa besar yang lain. Zina biasanya berkait dengan dosa dan maksiat yang lain sebelum atau bila berlakunya dan selepas itu biasanya akan melahirkan kemaksiatan yang lain pula.

* Zina menghilangkan harga diri pelakunya dan merosakkan masa depannya di samping meninggalkan aib yang berpanjangan bukan sahaja kepada pelakunya malah kepada seluruh keluarganya.

* Aib yang dicontengkan kepada pelaku zina lebih membekas dan mendalam daripada asakan akidah kafir, misalnya, kerana orang kafir yang memeluk Islam selesailah persoalannya, namun dosa zina akan benar-benar membekas dalam jiwa kerana walaupun akhirnya pelaku zina itu bertaubat dan membersihkan diri dia akan masih merasa berbeza dengan orang yang tidak pernah melakukannya.

* Jika wanita yang berzina hamil dan untuk menutupi aibnya ia mengugurkan kandungannya itu maka dia telah berzina dan juga telah membunuh jiwa yang tidak berdosa . Jika dia ialah seorang wanita yang telah bersuami dan melakukan kecurangan sehingga hamil dan membiarkan anak itu lahir maka dia telah memasukkan orang asing dalam keluarganya dan keluarga suaminya sehingga anak itu mendapat hak warisan mereka tanpa disedari siapa dia sebenarnya. Amat mengerikan, naudzubillah min dzalik.

* Perzinaan akan melahirkan generasi individu-individu yang tidak ada asal keturunan (nasab).  Di mata masyarakat mereka tidak memiliki status sosial yang jelas.

* Pezina laki-laki bererti telah menodai kesucian dan kehormatan wanita.

* Zina dapat menyemai permusuhan dan menyalakan api dendam antara keluarga wanita dengan lelaki yang telah berzina dengannya.

* Perzinaan sangat mempengaruhi jiwa kaum keluarganya di mana mereka akan merasa jatuh martabat di mata  masyarakat, sehingga kadang-kadang menyebabkan mereka tidak berani untuk mengangkat muka di hadapan orang lain.

* Perzinaan menyebabkan menularnya penyakit-penyakit berbahaya seperti aids, siphilis, dan gonorhea atau kencing bernanah.

* Perzinaan menjadikan sebab hancurnya suatu masyarakat yakni mereka semua akan dimusnahkan oleh Allah akibat dosa zina yang tersebar dan yang dilakukan secara terang-terangan.

HUKUMAN ZINA

Demikianlah besarnya bahaya dosa zina, sehingga Ibnul Qayyim, ketika mengulas tentang hukuman bagi penzina, berkata: “Allah telah mengkhususkan hadd (hukuman) bagi pelaku zina dengan tiga kekhususan iaitu:

* Pertama, hukuman mati secara hina (rejam) bagi pezina kemudian diringankan (bagi yang belum nikah) dengan dua jenis hukuman, hukuman fizikal yakni dirotan seratus kali dan hukuman mental dengan diasingkan selama satu tahun.

* Kedua, Allah secara khusus menyebutkan larangan merasa kasihan terhadap penzina. Umumnya sifat kasihan adalah diharuskankan bahkan Allah itu Maha Pengasih namun rasa kasihan ini tidak boleh sehingga menghalang dari menjalankan syariat Allah. Hal ini ditekankan kerana orang biasanya lebih kasihan kepada penzina daripada pencuri, perompak, pemabuk dan sebagainya. Di samping itu penzinaan boleh dilakukan oleh siapa sahaja termasuk orang kelas atasan yang mempunyai kedudukan tinggi yang menyebabkan orang yang menjalankan hukuman merasa enggan dan kasihan untuk menjalankan hukuman.

* Ketiga, Allah memerintahkan agar pelaksanaan hukuman zina disaksikan oleh orang-orang mukmin dengan maksud menjadi pengajaran dan memberikan kesan positif bagi kebaikan umat.

BEBERAPA PERKARA PENTING YANG PERLU DIPERHATIKAN

Orang yang berzina dengan banyak pasangan lebih besar dosanya daripada yang berzina hanya dengan satu orang, demikian juga orang yang melakukanya berkali-kali dosanya lebih besar daripada yang melakukannya hanya sekali.

* Penzina yang berani melakukan maksiat ini dengan terang-terangan lebih buruk daripada mereka yang melakukannya  secara sembunyi-sembunyi.

* Berzina dengan wanita yang bersuami lebih besar dosanya daripada dengan wanita yang tidak bersuami kerana adanya unsur perbuatan zalim (terhadap suami wanita), boleh menyalakan api permusuhan dan merosak keutuhan rumah tangganya.

* Berzina dengan jiran lebih besar dosanya daripada orang yang jauh rumahnya.

* Berzina dengan wanita yang sedang ditinggalkan suami kerana perang (jihad) lebih besar dosanya daripada dengan wanita lain.

* Berzina dengan wanita yang ada pertalian darah atau mahram lebih jahat dan hina daripada dengan yang tidak ada hubungan mahram.

* Ditinjau dari segi waktu maka berzina di bulan Ramadhan, baik siangnya ataupun malamnya, lebih besar dosanya daripada waktu-waktu lain.

* Kemudian dari segi tempat dilakukannya, maka berzina di tempat-tempat suci dan mulia lebih besar dosanya deripada tempat yang lain.

* Pezina muhson (yang sudah bersuami atau beristeri) lebih hina daripada gadis atau jejaka, orang tua lebih buruk daripada pemuda, orang alim lebih buruk daripada yang jahil dan orang yang berkemampuan (terutama dari segi ekonomi) lebih buruk deripada orang fakir atau lemah.

BERTAUBAT

Bertaubat ini bukan khusus hanya kepada penzina, bahkan kepada sesiapa sahaja yang menunjukkan jalan untuk terjadinya zina, membantu dan memberi peluang kepada pelakunya dan siapa saja yang ikut terlibat di dalamnya. Hendaknya mereka semua segera kembali dan bertaubat dengan sungguh-sungguh, menyesali apa yang pernah dilakukannya dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak kembali melakukannya. Dan yang paling penting adalah memutuskan hubungun dengan siapa sahaja dan apa sahaja yang boleh menarik ke arah perbuatan keji tersebut. Dengan demikian diharapkan Allah akan menerima taubat itu dan mengampuni segala dosa yang pernah dilakukan, dan ingatlah, tidak ada istilah ‘putus asa’ dalam mencari rahmat Allah.

Allah berfirman, mafhumnya:
“Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka mereka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” (QS. 25:68-70)

Disaring dari risalah Daarul Wathan judul Min mafasid az-zina, karya Muhammad bin Ibrahim al Hamd.

Add a comment Juni 3, 2010

CARA MENGHINDARI ROKOK

Pertanyaan Terselesaikan
Lihat lainnya »
Bagaimana menghindari rokok ? ?
karena sudah sangat kecanduan rokok .setiap ada waktu luang selalu ingin merokok,memang sih..saya sudah tahu bahanya rokok bagi kesehatan.ada cara gampang ngga ya..menghindari rokok?

* 2 tahun lalu

Lapor Penyalahgunaan
the doctor exc by the doctor exc

Anggota sejak:
12 Agustus 2008
Total poin:
335 (Tingkat 2)

* Tambahkan ke Kontak Saya
* Blokir Pengguna

Jawaban Terbaik – Dipilih oleh Suara Terbanyak
Rokok….
Emang rokok itu hal sepele tapi susah dalam meninggalkannya, apalagi sudah kcanduan.
Perlu diketahuidiketahui bahwa rokok itu hal yang tidak mahal dan sudah mendarah danging di masyarakat indonesia. dapat dipastikan 70% pria di indonesia merokok.
Untuk menghindari coba aja dengan cara yang sepele yaitu jauhi orang perokok, dan jangan membeli rokok lagi.

Add a comment Juni 3, 2010

penanggulangan hiv aids

engapa remaja seolah-olah memiliki masalah unik dan tidak mudah dipahami? Ungkapan ini mungkin banyak dilontarkan para orang tua, namun bagaimana dengan para remaja sendiri? Sebuah penelitian terbaru di Inggris melakukan analisa tentang pola laku remaja, terutama remaja beraliran gothic atau lebih dikenal dengan sebutan ‘goths’.
Melukai diri sendiri yang termasuk gangguan mental serius menjadi salah satu ciri khas remaja beraliran goths, dibandingkan remaja dari komunitas lain.Pada studi tersebut dicatat, sekitar 53 persen yang mengikuti aliran gothic (Goth subculture) mengaku suka mencederai diri sendiri sementara 47 persen lainnya cenderung berusaha untuk mengakhiri hidupnya.

Sebenarnya hampir separuh dari remaja mencederai diri sendiri sebelum memutuskan memilih aliran goths, dengan aliran ini mereka merasa tekanan emosi mereka lebih diperhatikan dan dimengerti.
Melukai diri sendiri seperti: memotong, membakar atau memukul diri sendiri untuk menimbulkan rasa sakit, adalah sebuah cara menunjukkan masalah emosi mereka. Hal tersebut bisa dihubungkan dengan depresi, usaha bunuh diri, dan berbagai masalah kejiwaan dalam kehidupan selanjutnya.
Posted by muhd irFan at 12:24 AM 0 comments
Thursday, May 7, 2009
GeJala puNk yg berleluasa di kAlangaN remajA!

Punk pula lahir di London, Inggeris. Sejak tahun 1980-an, saat punk bermaharalela di
Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah bersatu, kerena mempunyai semangat
yang sama. Namun, Punk juga dapat bererti jenis muzik atau genre yang lahir di awal tahun
1970-an. Punk juga boleh diertikan sebagai ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan
politik. Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera
membantah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan kewangan yang dipacu oleh
kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu peningkatan pengangguran yang
tinggi.
Posted by muhd irFan at 11:02 PM 0 comments
poNteng sekolah masalah besar pelajar!!

Salah satu masalah disiplin yang paling besar adalah ponteng sekolah. Masalah ponteng sekolah ini pun bukan perkara baru malah semua orang pernah terlibat atau mengetahui tentangnya semasa bersekolah dahulu. Masalah ini sebenarnya berlaku sepanjang tahun cuma bilangannya meningkat setiap kali selepas peperiksaan sebelum cuti bermula.

Jangan terkejut jika ada yang ponteng sekolah ini dihalalkan oleh ibubapa sendiri terutama mereka yang bersekolah rendah. Ini amat ketara semasa kelas ganti pada hari Sabtu dan ketika selepas peperiksaan. Kedatangan yang merosot ini boleh dilihat apabila pelajar beberapa kelas terpaksa digabungkan untuk memenuhkan sebuah kelas. Cubalah tanya kepada anak atau adik anda bila ada kelas gantian hari Sabtu atau selepas peperiksaan nanti.

Bukankah sikap sebahagian ibubapa yang menghalalkan tidak perlu hadir ke sekolah ini memberi pengajaran yang kurang sihat kepada anak-anak mereka sendiri. Apabila di sekolah menengah nanti pelajar ini akan dengan sendirinya mencari berbagai alasan untuk membolehkan dia tidak datang ke sekolah. Akhirnya mereka ini akan menganggap pergi ke sekolah ini satu bebanan dan seringlah dia melencong ke tempat lain.
Posted by muhd irFan at 1:41 PM 0 comments
rempit oh mat rempit…

Marcapada ini,remaja2 penuh dengan kegilaan..dengan berbagai gelagat..sepeti sekarang ini yg sgt top..”mat rempit”.gejala sosial yg sgt mengundang bahaya untuk remaja sekarang..yg berani membonceng motor dgn aksi berbahaya dan laju di jalan raya sehingga membahayakan kenderaan lain..Aspek ini sgt sukar untuk dibendung kerana..ibubapa terutama yg tidak bertanggungjawab atas perbuatan anak2 mereka.

Add a comment Juni 3, 2010

TINGKAH LAKU REMAJA YANG MENYIMPANG SOSIAL

engapa remaja seolah-olah memiliki masalah unik dan tidak mudah dipahami? Ungkapan ini mungkin banyak dilontarkan para orang tua, namun bagaimana dengan para remaja sendiri? Sebuah penelitian terbaru di Inggris melakukan analisa tentang pola laku remaja, terutama remaja beraliran gothic atau lebih dikenal dengan sebutan ‘goths’.
Melukai diri sendiri yang termasuk gangguan mental serius menjadi salah satu ciri khas remaja beraliran goths, dibandingkan remaja dari komunitas lain.Pada studi tersebut dicatat, sekitar 53 persen yang mengikuti aliran gothic (Goth subculture) mengaku suka mencederai diri sendiri sementara 47 persen lainnya cenderung berusaha untuk mengakhiri hidupnya.

Sebenarnya hampir separuh dari remaja mencederai diri sendiri sebelum memutuskan memilih aliran goths, dengan aliran ini mereka merasa tekanan emosi mereka lebih diperhatikan dan dimengerti.
Melukai diri sendiri seperti: memotong, membakar atau memukul diri sendiri untuk menimbulkan rasa sakit, adalah sebuah cara menunjukkan masalah emosi mereka. Hal tersebut bisa dihubungkan dengan depresi, usaha bunuh diri, dan berbagai masalah kejiwaan dalam kehidupan selanjutnya.
Posted by muhd irFan at 12:24 AM

Add a comment Juni 3, 2010

HINDARI SEKS DI KALANGAN REMAJA

Seks luar nikah
Oleh Diyanah Anuar

Mengapa remaja `menghalalkannya’?

SEKS…satu perkataan ringkas tetapi mempunyai pemahaman yang sungguh luas dan subjektif.

Di era kemajuan kini, ramai yang lebih terbuka dalam membicarakan perihal seks dari pelbagai sudut dan perspektif walaupun masih ada yang menganggap ia sesuatu yang ‘taboo’ (pantang) dan tidak manis diperkatakan, terutamanya oleh mereka yang belum berkahwin.

Lupakan sejenak perbezaan kedua-dua pendapat ini kerana realitinya, semakin ramai remaja terbabit dalam aktiviti seks luar nikah dewasa ini.

Mengikut Tinjauan Seks Sejagat Durex 2004 – membabitkan 350,000 responden dari 41 negara – secara purata, seseorang mula melakukan hubungan seks buat pertama kali – hilang dara atau teruna – antara usia 16 tahun dan 20 tahun atau purata usia 17.7 tahun.

Remaja Malaysia? Secara purata, remaja Malaysia melakukan seks kali pertama pada usia 19.3 tahun berbanding 20 tahun pada 2001 sedangkan kajian Persekutuan Persatuan-persatuan Perancangan Keluarga Malaysia (PPPKM) mendapati usia sesuai untuk berkahwin di Malaysia bagi lelaki adalah 28 tahun dan 25 tahun bagi perempuan berbanding masing-masing 21 tahun dan belasan tahun, dulu.

Sukar untuk mempercayai perkara sedemikian berlaku di kalangan masyarakat yang membesarkan anak kecil mereka dengan gambaran bahawa seks adalah satu perkara yang ‘tidak baik’ melainkan adanya ikatan perkahwinan antara dua pasangan lelaki dan perempuan.

Adakah remaja hari ini tidak menerima lagi pandangan dan `didikan’ ini hanya kerana dunia dan masyarakat semakin moden, dunia tanpa sempadan dan globalisasi yang penuh mencabar?

Tidakkah mereka memikirkan masa depan yang akan gelap jika hamil sebelum berkahwin? Apakah yang akan terjadi pada persekolahan atau kerjaya mereka? Sekolah terbiar, kerjaya tergugat.

Belum lagi mengambil kira malu pada diri, keluarga dan masyarakat. Sanggup dibuang keluarga kerana menconteng arang ke muka mereka semata-mata kerana mengikut nafsu? Sanggup `dibelasah’ kerana merosakkan anak gadis orang? Pendek kata, dunia akan `tunggang-terbalik’!

Kebanyakan remaja yang terbabit dalam hubungan seks ini menyedari bahawa perbuatan mereka itu salah, tetapi rela membiarkan nafsu menguasai diri berbanding akal fikiran yang waras.

Ada juga yang terbabit dalam seks luar nikah ini memberi pelbagai alasan – seperti tekanan hidup – untuk `menghalalkan’ perbuatan mereka.

Bukan itu saja, ada yang melakukan seks oral (hubungan seks yang membabitkan mulut dan alat sulit saja) dengan anggapan bahawa ia ‘ringan’ dan tidak akan menyebabkan kehamilan.

Harus diingat, biarpun tidak menyebabkan kehamilan, ia masih berisiko untuk menyebarkan penyakit kelamin, herpes, sifilis dan hepatitis, sama seperti hubungan seks secara langsung.

Ramai remaja juga menerima perlakuan `intim’ seperti berpeluk, bercium atau seks antara pasangan kekasih, sebagai sesuatu yang normal.

Pihak berkaitan, terutama ibu bapa harus memandang serius perkara ini. Melihatkan peningkatan bilangan kelahiran anak luar nikah dan pengguguran bayi, remaja seharusnya didedahkan mengenai keburukan perbuatan ini pada fizikal, emosi, mental, sosial dan spiritual kepada pelakunya.

Pakar Psikologi dan Ketua Unit Pembangunan Penyelidikan Kesihatan, Fakulti Perubatan, Universiti Malaya, Prof Dr Sarinah Low Abdullah berkata, sesetengah ibu bapa tidak menitikberatkan pendidikan seks kepada anak-anak sehingga menyebabkan anak-anak itu berusaha mendapatkan maklumat yang ‘tidak selamat’ daripada sumber lain seperti rakan, buku, majalah, laman web atau cakera padat video (vcd) lucah.

Katanya, anak-anak ini harus diberi pendidikan nilai dan spiritual, yang akan membantu menjadi benteng menangani gejala tidak sihat.

“Tanpa nilai ini, remaja akan memudah `tergoda’ dengan pujuk rayu dan ajakan untuk melakukan perkara tidak baik kerana tiada disiplin dan prinsip yang kukuh untuk dipegang,” katanya.

Hubungan kekeluargaan yang erat juga mampu menghindarkan golongan remaja daripada melakukan perkara yang negatif dan pada masa yang sama, remaja juga harus berfikir dengan lebih rasional dan tidak terlalu terikut-ikut dengan budaya yang tidak baik.

30 peratus remaja `terjebak’…

i-Kon turut menjalankan kajian mengenai isu ini. Kajian ini membabitkan 100 remaja di sekitar Kuala Lumpur dan Shah Alam, berusia lingkungan 15 tahun ke 30 tahun. Mereka ini terdiri daripada pelajar, penuntut institusi pengajian tinggi dan sebahagiannya sudah memasuki alam pekerjaan.

(Kadar maklum balas adalah 100 peratus – bermakna semua remaja yang didekati bersetuju untuk menyertai kajian ini. Peratusan kadar maklum balas penting bagi menentukan kajian ini sahih dan boleh digunakan)

Responden ini ditemui i-Kon dalam kajian yang dijalankan di pusat beli-belah, stesen pengangkutan awam dan kedai makan.

Penemuan kami, 31 peratus (31 remaja) mengaku sudah melakukan seks dan tujuh daripadanya (23 peratus daripada 31 remaja) melakukan perbuatan itu ketika belum mencecah usia 15 tahun!

Mengejutkan? Sudah pasti ya kerana di kala usia masih mentah dan kehidupan seharusnya ditumpukan untuk mencapai cita-cita, remaja ini `hanyut’ melayan nafsu atas alasan ingin tahu dan cinta.

Lebih membimbangkan apabila sebahagian besar pelajar iaitu 65 peratus membenarkan pengguguran dilakukan jika mengandung anak luar nikah.

Sikap liberal remaja ini sememangnya `menggerunkan’ dan sewajarnya membuka mata pihak berkaitan untuk melakukan sesuatu kerana ia akan mendorong kepada amalan tidak sihat.

Walaupun kajian ini tidak mewakili keseluruhan remaja di negara ini, ia setidak-tidaknya dapat memberi gambaran mengenai pandangan remaja mengenai isu seks, pemahaman dan tahap kesedaran berhubungnya.

Penemuan lain kajian i-Kon:

57 peratus remaja mengaku pernah bercium, terutama dengan teman istimewa;

69 peratus remaja pernah berpeluk dengan teman istimewa;

80 peratus remaja berpegang tangan dengan teman istimewa;

55 peratus remaja pernah menonton filem lucah;

43 peratus remaja pernah melayari laman web lucah;

Majoriti remaja iaitu 81 peratus mendapatkan maklumat mengenai seks daripada buku dan majalah (bukan bahan bacaan lucah);

72 peratus remaja mendapat maklumat seks daripada rakan;

Kira-kira 30 peratus ke 40 peratus remaja mendapat pengetahuan mengenai seks daripada video, majalah dan laman web lucah;

59 peratus remaja bersetuju penggunaan kondom adalah antara kaedah perancangan keluarga yang berkesan;

Kira-kira 90 peratus remaja menganggap hubungan seks luar nikah sebagai tidak baik dan boleh menjejaskan hubungan kekeluargaan.

Add a comment Juni 3, 2010

CARA MENGHINDARI PENYAKIT HERPES

Cara Menghindari Penyakit Herpes
friscaan Posted by: friscaan in General Print PDF
Tagged in: Untagged
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi virus herpes karena terkadang herpes tidak menimbulkan gejala.Bagaimana penularan penyakit herpes ini dan cara menghindarinya?

Terdapat dua jenis penyakit herpes yang bisa menginfeksi manusia yaitu penyakit herpes zooster (shingles) yang terlihat seperti cacar dan juga penyakit herpes genital (herpes simplex). Kedua penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus yang berbeda. Jika penyakit herpes zooster disebabkan oleh virus varicella zoster (VZV), penyakit herpes genital disebabkan oleh Herpes HSV 2 (Herpes Simplex Virus 2). Kedua penyakit ini memang berbeda, tapi keduanya merupakan penyakit yang menular.

A. Cara penularan
1. Penyakit herpes genital (kelamin)
Penularannya melalui kontak kulit langsung yaitu dari daerah yang terinfeksi ke daerah yang tertular.
Misalnya saat seseorang yang terinfeksi mencium atau melakukan hubungan seks seperti oral, vagina atau dubur, maka bisa menyebabkan pasangannya tertular.
Herpes jenis ini paling mudah menular jika kondisi seseorang sedang sakit, biasanya ditandai dengan rasa gatal, kesemutan dan sensasi lain sebelum muncul apapun di kulit.

2. Penyakit herpes zooster
Penyakit ini biasanya mempengaruhi orang-orang dewasa yang memiliki kekebalan tubuh sedang menurun. Virus herpes ini ada dimana-mana tapi jika seseorang memiliki kekebalan tubuh yang baik, maka jarang terkena kondisi ini.
Virus varicella zoster adalah virus yang juga menyebabkan penyakit cacar. Jika orang sudah terkena cacar jarang terkena herpes zooster.
Berbeda dengan cacar, herpes zooster mengakibatkan rasa sakit dan nyeri yang luar biasa. Dan lokasi penyakitnya hanya terjadi di beberapa sisi tubuh saja. Kadang ada juga yang menyerang mata, wajah, leher, sekitar telinga dan ujung hidung.
Gejala pertama yang dirasakan adalah rasa sakit di satu daerah tertentu. Diikuti dengan adanya ruam yang berisi cairan yang karakteristiknya mirip dengan cacar air. Jika digaruk bisa menyebabkan infeksi.

B. Cara menghindari

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar terhindar dari infeksi kelamin herpes, seperti dikutip dari eHow, Rabu (14/4/2010) yaitu :
1. Menggunakan kondom baik untuk laki-laki atau perempuan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa virus herpes tidak dapat melewati kondom latex jika digunakan dengan benar. Praktik ini cukup bisa mengurangi risiko penularan.
2. Jujur dengan pasangan jika salah satu memiliki infeksi penyakit seksual, hal ini bisa membantu mengurangi penularan melalui kontak seksual.
3. Jangan melakukan seks oral jika sedang flu atau diketahui memiliki HSV 1 di dalam mulut, karena ini bisa menjadi penyebar virus ke alat kelamin.
4. Setia pada satu pasangan (monogami) dan melakukan praktik seks yang aman setiap kali berhubungan tanpa ada pengecualian. Mengurangi gesekan dan juga mencegah timbulnya luka kecil di vagina atau penis yang berpotensi masuknya virus ke tubuh.
5. Mencuci tangan setelah menyentuh luka sebelum menyentuh bagian tubuh lain untuk menghindari penyebaran virus.

Untuk menghindari penyakit herpes zooster (shingles) ada beberapa cara yang bisa dilakukan, yaitu :
1. Jika belum pernah mendapatkan cacar air sama sekali, usahakan untuk tidak berdekatan dengan orang yang sedang cacar.
2. Melakukan vaksin untuk mencegah terinfeksi virus varicella zooster. Seseorang tidak bisa mendapatkan herpes zooster jika belum pernah mendapatkan cacar air, jadi salah satu caranya adalah melindungi diri dari cacar air dengan melakukan vaksin cacar.
3. Jika sedang mengalami herpes zooster, sering-seringlah mencuci tangan agar penyakit ini tidak menyebar ke bagian tubuh lain.
4. Sebisa mungkin menghindari sentuhan atau kontak dengan orang yang sedang sakit herpes zooster, karena sentuhan adalah salah satu media penyebaran dari penyakit ini.
5. Menjaga sistem kekebalan tubuh agar tidak menurun, sehingga virus sulit untuk menginfeksi tubuh.

Add a comment Juni 3, 2010

PERSELISIHAN ANTAR REMAJA

ABSTRAK

Konflik antar teman sebaya di kalangan remaja banyak kita jumpai terjadi di masyarakat. Untuk menyelesaikan konflik yang efektif perlu dikembangkan suatu model konseling yang sesuai untuk kasus tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model konseling berfokus resolusi konflik antar teman sebaya (Konseling RKS) yang memiliki validitas, kepraktisan dan keefektifan dalam meningkatkan perilaku damai di kalangan remaja. Pendekatan penelitian adalah penelitian pengembangan. Subjek sebanyak 105 individu (90 siswa, 3 konselor dan 4 dosen) di Malang (Jawa Timur) dan Mataram (Nusa Tenggara Barat). Data kuantitatif diperoleh dengan skala sedangkan data kualitatif dikumpulkan dengan observasi partisipasi dan wawancara. Analisis data kualitatif dilakukan analisis triangulasi dan analisis data kuantitatif dilakukan dengan uji-t. Konseling RKS yang dikembangkan terdiri dari: latar belakang, pendekatan dan teori pndukung,  ruang lingkup, prosedur, dan keefektifan dan cara penilaian. Hasil penelitian mempunyai bukti yang cukup bahwa Konseling RKS adalah model yang valid dan praktis dan dapat diterapkan untuk menyelesaikan konflik antar teman sebaya di kalangan remaja. Konseling RKS juga efektif dalam meningkatkan perilaku anti kekerasan dan permusuhan, meningkatkan penggunaan strategi penyelesaian konflik yang damai dan membangun perdamaian.

Kata kunci: konseling, resolusi konflik, remaja, pengembangan model, perilaku damai, anti kekerasan.

1. PENDAHULUAN

1.1 Permasalahan

Penggunaan kekerasan dalam penyelesaian konflik telah lama terjadi dalam masyarakat Indonesia (Bertrand 2005; Colombijn & Lindblad 2002), misalnya ‘tindak main hakim sendiri’ (Colombijn & Lindblad 2002), konflik antara suku dan etnik (Ratnawati 2006; Habib 2004), perkelahian antara kampung dan geng (Gani 2000), dan budaya kekerasan dalam rumah tangga. Konflik seperti ini tidak hanya  terjadi pada masyarakat awam, kalangan pelajar juga banyak berkonflik yang disertai tindakan agresif (Ariyanto 1992).

DeCecco dan Richards telah mengkaji penggunaan tindak kekerasan oleh remaja dalam menyelesaikan konflik di Amerika Serikat (Johnson, Johnson, Dudley & Acikgos  1994). Menurutnya sebanyak 90% konflik yang dialami remaja tidak terselesaikan, dan 25% remaja menyelesaikannya dengan cara paksaan, kekerasan, atau perkelahian. Persentase penggunaan kekerasan oleh remaja di Indonesia tidak sebesar hasil penelitian di Amerika tersebut. Mengacu pada penelitian yang dilakukan Aryanto (1992), remaja di Jakarta yang melakukan tindak kekerasan dalam menyelesaikan masalahnya sekitar 3.8%.

Hasil penelitian pendahuluan[1] di Malang, Indonesia, menunjukkan prevalensi remaja yang mengalami konflik dengan teman sebaya sebanyak 21%, dan sebanyak 81% dari 141 remaja yang menjadi sampel menyatakan pernah mengalami perselisihan dan konflik dengan teman sebaya di sekolah. Sedangkan jumlah konflik yang dialami pelajar dalam waktu dua tahun sebanyak 59% mengalami 1-2 kali konflik sahaja, 11% mengalami 3-4 kali konflik, dan 29% mengalami 5 kali konflik atau lebih.

Untuk menciptakan kondisi damai di sekolah, konflik antar pelajar perlu ditangani yang lebih serius. Banyak sekolah melakukan pengendalian terhadap perilaku pelajar secara ketat (Matindas 1996; Page & Hammermeister 1997) tetapi apa pula yang mengembangkan pendekatan edukatif. Terdapat tiga pendekatan edukatif yang umum diterapkan di sekolah untuk mengatasi konflik di kalangan pelajar, iaitu: (1) pendidikan damai yang dintegrasikan dengan kurikulum sekolah, (2) latihan penyelesaian konflik secara konstruktif, dan (3) mediasi dan negosiasi oleh teman sebaya (Gerstein & Moeschberger 2003; Newman, Murray & Lussier 2001; Johnson & Johnson 1994; Deutsch, 1993). Berdasarkan berbagai penelitian, model penyelesaian konflik tersebut adalah efektif, di antaranya dapat meningkatkan pengetahuan pelajar dalam menyelesaikan konflik secara konstruktif, lebih bersikap prososial, dan dapat menghindari sebagai korban dari tindak kekerasan (Johnson & Johnson 1995; Laursen, Finkelstein, & Betts 2001; Zhang 1994).

Namun demikian, menurut Theberge & Karan (2004) program penyelesaian konflik yang diajarkan di sekolah tidak banyak dipraktikkan oleh siswa. Menurutnya, hanya 8% pelajar yang mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu hambatan dalam mengaplikasikan program tersebut adalah remaja kurang percaya kepada kemampuan temannya dalam menyelesaikan konflik. Dengan demikian, untuk penyelesaian konflik antar teman sebaya diperlukan model yang lebih diterima oleh remaja, mudah diterapkan, dan efektif bagi penyelesaian konfliknya (den van Akker 1999; Nieveen 1999).

Pada dasarnya, remaja yang mengalami konflik perlu ditolong dengan metode yang sesuai sehingga mereka dapat menyelesaikannya secara tepat, iaitu menyelesaikannya secara konstruktif dan dapat menyelesaikan masalah psikologis yang menyertainya. Sebagaimana yang diharapkan oleh sebahagian besar pimpinan sekolah (97%) bahwa penyelesaian konflik antar teman sebaya dapat dilakukan melalui konseling sehingga lebih efektif dalam mencegah terjadinya peningkatan konflik, peningkatan rasa damai di sekolah, serta penyelesaian konflik secara lebih cepat (Latipun 2005).

Permasalahannya adalah bagaimana cara melakukan konseling untuk menangani konflik antar teman sebaya di kalangan remaja. Sebanyak 80% pimpinan sekolah di Indonesia memandang konselor sekolah adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas semua permasalahan sosial dan psikologis yang dialami oleh pelajar. Oleh karena itu, merupakan hal yang penting bagi konselor untuk memiliki panduan dalam menyelesaikan konflik antar teman sebaya di kalangan pelajar.

Berdasarkan kepada uraikan di atas, permasalahan penelitian adalah (1) bagaimanakah model konseling yang dapat digunakan untuk menyelesaikan kasus konflik antar teman sebaya di kalangan remaja? (2) adakah konseling yang berfokus resolusi konflik antar teman sebaya (Konseling RKS) efektif dalam meningkatkan perilaku damai di kalangan remaja?

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian adalah  mengembangkan model konseling berfokus resolusi konflik antar teman sebaya (Konseling RKS) di kalangan remaja. Secara lebih khusus, tujuannya adalah: (1) mengembangkan model Konseling RKS yang dapat digunakan untuk menyelesaikan konflik antar teman sebaya di kalangan remaja dan (2) menguji efektivitas Konseling RKS dalam meningkatkan perilaku damai di kalangan remaja.

2. PENDEKATAN PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan pengembangan (Borg & Gall 1983; Richey, Klein, & Nelson 2004), iaitu penelitian bagi mengembangkan suatu produk atau model (Bagdonis & Salisbury 1994; Borg & Gall 1983; Richey, Klein & Nelson 2004; Marxt & Hacklin 2005). Model yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah konseling yang berfokus resolusi konflik antara teman sebaya di kalangan remaja.

Berdasarkan pandangan banyak ahli (Marxt & Hacklin 2005; Richey et al. 2004; van den Akker 1999; Valcke, Kirschner & Bos 1999) penelitian pengembangan model dapat disederhanakan menjadi tiga tahap iaitu konseptualisasi prototipe, penyusunan model, dan pengujian model. Dengan tahapan tersesebut, model yang dikembangkan diharapkan menjadi model yang validitas, praktis dan efektif.

4. PENELITIAN I: KONSEPTUALISASI PROTOTIPE

Berdasarkan penelitian terdahulu dan diskusi terbatas dengan berbagai sumber dibuat draft awal dan seterusnya dikembangkan menjadi prototipe Konseling RKS, yang disebut sebagai prototipe I. prototipe merupakan versi awal dari suatu produk, yang belum lengkap, belum dapat dipakai secara sempurna dan perlu diperbaiki untuk menghasilkan produk akhir (Moonen 1999).

Untuk penyusunan prototipe yang lebih baik, draft yang telah disusun perlu memperoleh kritik dan saran dari ahli konseling dan konselor. Kritik dan saran tersebut dijadikan dasar untuk memperbaiki prototipe. Beberapa bahagian dari draft awal direvisi dan dibaiki berdasarkan masukan dari mereka.

Sebanyak 11 orang yang dapat memberikan kritik dan saran tehadap draft Konseling RKS iaitu konselor sekolah (tiga orang), ahli dan dosen psikologi dan konseling (enam orang), serta ahli konflik dan pendidikan damai (dua orang). Hasil revisi terhadap draft prototipe Konseling RKS disebut sebagai Prototipe I. Penyusunan Prototaip I pada dasarnya adalah pra-penelitian dalam penelitian pengembangan. Hasil penyusunan prottotipe ini masih perlu kajian selanjutnya untuk menghasilkan model yang diharapkan.

Prototipe Konseling RKS mengandung pokok pikiran: (1) latar belakang pengembangan model konseling, (2) nama model yang dikembangkan, (3) pendekatan pengembangan model, (4) teori pendukung Konseling RKS, (5) ruang lingkup model Konseling RKS, (6) prosedur Konseling RKS, dan (7) efektivitas konseling dan cara penilaian.

5. PENELITIAN II: PENGEMBANGAN MODEL

Prototaip yang tersusun selanjutnya dilakukan pengujian dari segi validitas dan kepraktisannya. Pengujian tersebut dapat disebut pula sebagai penelitian formatif sebagai usaha pengembangan model Konseling RKS. Secara bertahap prosedur dan hasil penelitian formatif ini akan dijelaskan berikut ini.

1. Pengujian Validitas Model

Partisipan. Prototipe yang dikembangkan sebagai model harus memenuhi persyaratan sebagai model yang valid. Dalam penelitian ini pengujian validitas dilakukan dengan meminta penilaian mengenai aspek-aspek konseling yang disusun kepada pihak yang ahli dan konselor. Sebanyak 4 dosen dan 3 konselor terlibat dalam penelitian, yang dipilih dengan teknik snowball sampling.

Analisis Data. Penilaian ada dua jenis, yang bersifat kualitatif dan bersifat kuantitatif. Penilaian yang bersifat kualitatif dianalisis secara kuatitatif yaitu teknik triangulasi, dan penilaian kuantitatif dianalisis secara kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan dengan menelaah semua kritikan dan saran dari penilai. Semua saran dan kritikan ditulis, dianalisis dan diperbandingkan dengan orientasi teori yang digunakan. Kritikan dan saran yang sesuai dengan teori dan maksud penyusunan model dapat diterima dan secara langsung dijadikan dasar merevisi prototipe, sedangkan kritik dan saran yang tidak sesuai dengan teori dan maksud penyusunan model tidak dijadikan dasar perbaikan prototipe (Druckman 2005; Bagdonis & Salisbury 2004).

Penilaian terhadap prototipe mengacu pada 43 pertanyaan yang disediakan yang terkait dengan model yang disusun. Setiap pertanyaan diberi skor 1-5. Skor satu menunjukkan bahwa aspek/item tersebut kurang valid untuk pengembangan model, sedangkan skor 5 menunjukan bahwa aspek/item tersebut adalah sangat valid sebagai Konseling RKS. Analisis kuantitatif (analisis validitas) dilakukan terhadap skor penilaian oleh penilai sebagaimana dikemukakan oleh Aiken (1980).

Hasil Analisis. Menurut Aiken (1980), suatu item dapat dinyatakan valid jika memperoleh nilai koefisien validitas item minimal pada V = .75, k = .030 untuk skala yang peringkat penilaiannya adalah 5 dan penilai sebanyak tujuh orang. Implikasi dari pengujian validitas tersebut aspek-aspek yang valid dipertahankan sebagai aspek dari Konseling RKS, sedangkan aspek yang tidak valid dilakukan revisi dan selanjutnya meminta kepada penilai untuk memberikan penilaian lagi. Revisi terus dilakukan sehingga aspek tersebut menjadi valid secara statistik.

Berdasarkan penilaian tersebut, semua item yang dinilai memiliki validitas sebagai Konseling RKS dengan nilai koefisien validitas V = .75 – 1.00.  Latar belakang pengembangan model memperoleh V= .86, pendekatan pengembangan model dan teori pendukung memperoleh V= .79 – 1.00, ruang lingkup model memperoleh nilai koefisien .75 – .96, prosedur konseling memperoleh V= .79 – .96 dan keefektivan konseling dan cara penilaian memperoleh V= .75 – .96. Secara keseluruhan hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa Konseling RKS adalah valid secara isi. Konseling RKS yang memiliki validitas tersebut menjadi Prototipe II.

2. Pengujian Kepraktisan Model

Seperti yang diuraikan di atas, prototipe II merupakan prototipe yang valid. Namun demikian, prototipe tersebut perlu diketahui apakah prototipe tersebut dapat diterapkan untuk kasus yang sebenarnya (Akker 1999; Nieveen 1999). Oleh karena itu, prototipe tersebut harus diteliti secara kepraktisannya kepada kasus yang sesungguhnya. Penelitian penilaian dilakukan untuk memperoleh model yang lebih mudah diterapkan dalam menyelesaikan konflik antar teman sebaya.

Partisipan. Pada tahap pengujian kepraktisan model, sebanyak 10 orang siswa yang partisipasi. Mereka adalah siswa SMA/SMK di Malang. Mereka dipilih secara pouposif sampling, yaitu siswa dengan ciri-ciri:  (a) berumur 16-19 tahun, (2) sedang mengalami konflik dengan remaja yang lain dan (c) konflik telah terjadi sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan dan belum selesai.

Metode. Pengujian kepraktisan model Konseling RKS dilakukan dua tahap. Pertama, penelitian terhadap empat subjek (dua kasus konflik), yang bertujuan untuk mengetahui apakah model yang dirumuskan dapat diaplikasikan dengan mudah untuk kasus yang diteliti. Konseling RKS dilakukan dalam 8 sesi, dengan waktu 75 menit per sesi. Subjek adalah sepasang lelaki dan sepasang perempuan. Tahap kedua, penelitian dilakukan kepada enam pelajar (tiga kasus konflik), sebagai kelanjutan dari penelitian tahap pertama. Penelitian tahap kedua dilakukan berdasarkan prosedur Konseling RKS yang telah direvisi berdasarkan penelitian tahap yang pertama.

Analisis Data. Analisis kepraktisan merupakan analisis yang dilakukan untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan apakah prototipe yang disusun dapat diaplikasikan dalam kasus yang sebenarnya? Analisis dilakukan terhadap hasil observasi partisipasi dan wawancara dengan klien mengenai pelaksanaan Konseling RKS dalam menyelesaikan kasusnya.

Data yang diperolehnya ditulis, direduksi dan dianalisis. Dari analisis tersebut diklasifikasikan adanya data yang dapat meningkatkan fungsi kepraktisan dan data yang tidak dapat meningkatkan kepraktisan. Data yang dapat meningkatkan kepraktisan dijadikan dasar revisi prototipe menjadi model, sedangkan data tersebut tidak dapat meningkatkan kepraktisan akan diabaikan. Analisis terhadap proses pengujian formatif dilakukan secara kualitatif.

Hasil Penelitian. Hasil penelitian terhadap kasus konflik antar teman sebaya di kalangan pelajar sekolah menengah diperoleh hasil sebagai berikut.

(1) Konseling RKS untuk mnyelesaikan konflik antar teman sebaya untuk kasus yang menengah dapat dilakukan sebayak 6 sesi, dimulai dari sesi pendahuluan hingga sesi penutup. Delapan sesi seperti rencanakan pada prototipe I adalah waktu yang terlalu lama bagi klien dan membosankan bagi mereka dalam menyelesaikan masalahnya.

(2) Pada sesi awal konselor dapat menjalankan Konseling RKS dengan lebih aktif untuk membangun hubungan baik antara klien dan konselor (rapport). Keadaan terapeutik perlu diciptakan oleh konselor dimulai dari sesi awal konseling

(3) Pada sesi awal, sebagian besar klien berperasaan enggan untuk dipertemukan dengan lawan konfliknya. Mempersiapkan kondisi psikologis klien dalam menghadapi negosiasi merupakan perkara yang sangat penting. Tahap pendahuluan yang berfungsi sebagai tahap mempersiapkan klien memasuki tahap negosiasi dapat dilakukan dua kali sesi, hingga klien benar-benar sedia untuk menjalankan negosiasi secara konstruktif.

(4) Klien yang belum sanggup mengikuti Konseling RKS hingga akhir sesi kedua pada dasarnya dapat dilanjutkan dengan intervensi individu sehingga sedia untuk memasuki sesi negosiasi secara langsung dengan pihak lawan konflik.

(5) Bagi memudahkan proses konseling perlu dibina protokol konseling yang menjelaskan secara singkat mengenai langkah-langkah operasional proses Konseling RKS yang terintegrasi dengan prosedur Konseling RKS.

(6) Konseling RKS efektif terhadap penyelesaian konflik antar teman sebaya:

(a)    Klien dapat menyelesaikan konfliknya secara damai dan konstruktif dalam waktu 6 sesi pertemuan berdasarkan prosedur Kauseling RKS.

(b)   Klien merasa senang dapat menyelesaikan masalahnya tanpa dipaksa oleh orang lain dan mereka dapat menemukan cara menyelesaikan sendiri pada waktu proses Konseling RKS dilakukan.

(c)    Klien bersedia mempertahankan hubungan damai dan sanggup menyelesaikan konfliknya secara konstruktif dan damai jika menghadapi perselisihan lagi.

Rumusan Pengembangan Model. Beberapa bahagian penting yang merupakan hasil revisi terhadap model Konseling RKS adalah sebagai berikut.

(1) Struktur tulisan direvisi lagi dan dilengkapkan sehingga menjadi sebagai berikut:

(a)    Pendahuluan

(b)   Teori pendukung dan pendekatan pengembangan model Konseling RKS

(c)    Ruang lingkup Model Konseling RKS

(d)   Prosedur Konseling RKS

(e)   Protokol operasional pelaksanaan Konseling RKS

(f)     Efektivitas konseling dan cara Penilaian

(2) Tahap Konseling RKS dilakukan dalam enam sesi yang terdiri dari tahap berikut:

(a)    Tahap pendahuluan (dua sesi)

■ Membangun hubungan baik dengan klien dan pemahaman diri

■ Eksplorasi diri dan mempersiapkan proses negosiasi

(b)   Tahap negosiasi (tiga sesi)

■ Membangun kebersamaan dan pemahaman dalam hubungan  interpersonal

■ Perumusan masalah, kepentingan dan tujuan

■ Penyelesaian konflik

(c)    Tahap penutup (satu sesi)

Model Konseling RKS pada dasarnya hasil revisi dari prototipe II. Revisi tersebut dilakukan berdasarkan pengalaman lapangan pada waktu dilakukannya penelitian formatif terhadap kasus yang sebenarnya. Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut lebih bersifat teknis. Hal tersebut sesuai dengan tujuan penelitian terhadap prototipe II iaitu untuk mengetahui kepraktisan model tersebut diterapkan terhadap kasus konflik antar teman sebaya di kalangan remaja. Dengan wujudnya model operasional Konseling RKS bererti bahwa model tersebut telah memiliki validitas dan kepraktisan. Konseling RKS telah dapat diguna pakai sebagai model konseling dalam penelitian selanjutnya.

Pembahasan. Analisis secara kuantitatif terhadap aspek-aspek Konseling RKS menunjukkan bahwa model konseling RKS adalah valid. Besar skor yang diperoleh setiap item berada pada interval nilai koefisien .75-1.00. Artinya, item yang dinilai sebanyak 43 item memiliki nilai koefisien validitas yang cukup hingga validitas tinggi. Mengikut Borg & Gall (1983) hasil penilaian pakar dapat dijadikan dasar bagi penentuan validitas suatu model. Prosedur seperti ini juga dilakukan oleh peneliti lain ketika mengembangkan suatu model intervensi (mis. Maher 1986).

Seperti yang telah dijelaskan di atas, Konseling RKS yang valid dapat diuji kepraktisan sehingga diketahui bahwa model tersebut dapat diaplikasikan kepada sasarannya, iaitu untuk membantu remaja dalam menyelesaikan konflik dengan teman sebaya. Berdasarkan penelitian kepraktisan, terdapat beberapa hal yang perlu direvisi sehingga sesuai dengan keadaan subjek (remaja) dan dinamik proses konseling.

Penyesuaian yang dilakukan lebih banyak yang bersifat teknis. Mengikut pendapat Borg & Gall (1983) dan Richey et al. (2004) penyesuaian merupakan hal yang harus dilakukan dalam pengembangan suatu model. Penyesuaian tersebut dilakukan agar model yang dikembangkan lebih dapat diterapkan kepada sasarannya. Walau demikian, berdasarkan pengalaman peneliti pada waktu proses konseling dan pendapat klien mengenai keterlibatannya dalam proses konseling dalam menyelesaikan konflik, disimpulkan bahwa Konseling RKS adalah memiliki prosedur yang praktis.

Dengan demikian, menurut Borg and Gall (1983), Jones & Richey (2000) dan Marxt & Hacklin (2005) model Konseling RKS yang telah praktis tersebut dapat diteruskan untuk penelitian efektivitasnya sehingga diketahui kualitas model yang dikembangkan.

6. PENELITIAN III: EFEKTIVITAS MODEL

Tahap yang ketika adalah penelitian untuk mengetahui efektivitas model terhadap variabel yang diukur. Penelitian tahap yang katiga ini lebih bersifat ingin mengetahui kualitas model yang dikembangkan. Jika modelnya tersebut efektif dalam mengubah tingkah laku subjek berarti modelnya adalah berkualitas.

Partisipan. Untuk menetapkan subjek penelitian, dilakukan seleksi terhadap pelajar SMA dan SMK kelas X sampai XII sebanyak 1.373 pelajar di Mataram dan Malang. Mereka mengisi angket hubungan persahabatan. Berdasarkan hasil seleksi terhadap angket tersebut, terdapat 202 pelajar yang mengindikasikan mengalami konflik. Untuk memastikan apakah pelajar tersebut betul-betul mengalami konflik dengan temannya dan memenuhi syarat sebagai subjek penelitian, mereka diseleksi lagi melalui wawancara.

Berdasarkan hasil diseleksi dengan wawancara, sebanyak 96 pelajar yang memenuhi syarat sebagai sampel penelitian. Dipilih secara random sebanyak 40 pasang (80 individu) dan dibagi menjadi dua kelompok iaitu kelompok eksperimen (40 orang) dan kelompok kontrol (40 orang). Siswa yang menjadi subjek penelitian diuraikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Subjek penelitian berdasarkan usia, jenis kelamin, kelas, status sosial ekonomi, agama, suku bangsa dan tempat tinggal
Ciri-ciri subjek Kelompok eksperimen(N=40) Kelompok kontrol(N=40)
1. Usia 16-19 tahun(M = 16.90; SP = .96) 16-19 tahun(M = 16.80; SP = .72)
2. Jenis kelaminLaki-laki

Perempuan

20 orang (25%)20 orang (25%) 20 orang (25%)20 orang (25%)
3. KelasKelas X

Kelas XI

Kelas XII

15 orang (18.75%)21 orang (26.25%)

4 orang (5.00%)

13 orang (16.25%)23 orang (28.75%)

4 orang (5.00%)

4. Status sosial ekonomiRendah

Menengah

22 orang (27.50%)18 orang (22.50%) 21 orang (26.25%)19 orang (23.75%)
5. AgamaIslam

Nasrani

Hindu

37 orang (46.25%)1 orang (1.25%)

2 orang (2.50%)

38 orang (47.50%)1 orang (1.25%)

1 orang (1.25%)

6. Suku bangsaSasak

Jawa

Bali

16 orang (20.00%)22 orang (27.50%)

2 orang (2.50%)

15 orang (18.75%)24 orang (30.00%)

1 orang (1.25%)

7. Tempat tinggalBersama ibu/bapak saja

Bersama kedua orang tua

8 orang (10.00%)35 orang (43.75%) 3 orang (3.75%)37 orang (46.25%)

Intervensi. Dalam penelitian ini, variabel bebas adalah pemberian intervensi Konseling RKS kepada kelompok eksperimen, sedangkan kelompok kontrol tidak memperoleh intervensi. Pelajar yang menjadi kelompok eksperimen memperoleh layanan Konseling RKS (enam sesi, 60 menit per sesi). Layanan diawali dengan konseling individu sebanyak dua sesi dan selanjutnya memperoleh layanan konseling berpasangan sebanyak empat sesi.

Sesi pertama adalah intervensi individu yang diberikan kepada klien ke-1, klien ke-2 dan jika ada juga kepada klien ke-3. Sesi kedua dilakukan intervensi individu untuk mempersiapkan individu memasuki tahap negosiasi di tahap berikutnya. Pada sesi ketiga, intervensi dilakukan secara berpasangan, iaitu mempertemukan pihak-pihak yang berkonflik untuk menyelesaikan masalahnya secara langsung dan konselor sebagai mediatornya. Intervensi berpasangan ini dilakukan hingga sesi keenam. Subjek kelompok intervensi memperoleh Konseling RKS 6 sesi x 60 minit bagi setiap kasus, yang diberikan dua kali dalam seminggu. Subjek kelompok kontrol tidak memperoleh intervensi dan masuk daftar tunggu untuk memperoleh intervensi setelah postes.

Variabel Terikat dan Instrumen Pengukuran. Dalam penelitian ini variabel terikat adalah perilaku damai (peaceful behavior), yaitu sikap, cara, usaha dan kebiasaan individu yang dilakukan untuk memperkuat dan meningkatkan rasa damai baik bagi dirinya mahupun orang lain dalam kehidupan sehari-hari, dalam berhubungan dengan teman-temannya atau dengan komunitas yang lebih luas. Berdasarkan pendapat Clayton, Ballif-Spanvill, & Hunsaker (2001), Gerstein & Moeschberger (2003) dan Nelson & Christie (1995) perilaku damai terdiri dari tiga aspek iaitu anti kekerasan dan permusuhan (antiviolence and hostilities), strategi penyelesaian konflik (conflict resolution strategies) dan membangun perdamaian (peace building).

Anti kekerasan dan permusuhan (AKP) adalah perilaku damai yang berupa usaha mencegah dan menghilangkan tingkah laku agresif terhadap orang lain dan lingkungannya, menghindari tingkah laku yang mengganggu, serta provokatif dan permusuhan terhadap orang lain. Strategi penyelesaian konflik (StPK) adalah perilaku damai dalam bentuk kemampuan individu menyelesaikan konflik interpersonalnya baik secara konstruktif atau destruktif. Individu yang berperilaku damai lebih konstruktif dalam menyelesaikan konflik yang dialami dibanding dengan individu yang kurang berperilaku damai. Membangun perdamaian (BD) merupakan perilaku damai berupa  kemampuan individu dalam membangun hubungan baik dengan pihak lainnya sebagai kebersamaan antar mereka baik dalam keadaan konflik ataupun keadaan bekerjasama. (Clayton et al. 2001; Nelson & Christie 1996; Malhi 2004).

Untuk memperoleh data variabel terikat ini diperoleh dengan skala. Skala diambil dan diterjemahkan dari skala yang sudah ada dengan prosedur back-translation (Brislin 1976). Terdapat tiga instrumen yang digunakan untuk mengukut perilaku damai, yaitu Skala keagresifan dan permusuhan (SAP), Skala Strategi Penyelesaian Konflik (SSPK) dan Skala membangun hubungan perdamaian (SBHP). Sebelum instrumen tersebut diterapkan, telah dilakukan penilian oleh ahli psikologi dan pengukuran untuk menguji validitas konstruk dan dilakukan uji coba kepada kelompok remaja untuk mengukur validitas dan reliabilitasnya.

SAP diterjemehkan dari Aggression Questionnaire (AQ, Buss & Perry 1992), digunakan untuk mengukur tingkah laku AKP. SAP mengandung aspek tingkah laku agresif secara fisik, agresif secara lisan, rasa marah dan bermusuhan dengan orang lain. Dari 29 item yang diuji, terdapat 24 item yang valid dengan nilai validitas (korelasinya dengan keseluruhan item) yang terendah adalah .189 dan nilai validitas tertinggi adalah .474 (berdasarkan tabel r nilai validitas tersebut kemukinan kesalahan di bawah .001. Sedangkan nilai reliabilitas (konsistensi internal) diperoleh Alpha .789.

SSPK diterjemahkan dari Conflict Dynamic Profile Resposes to Conflict Scale (CDP, Davis, Capabianco & Kraus 2004), digunakan untuk mengukur StPK yang terdiri dari aspek gaya individu dalam menyelesaikan konflik secara aktif-konstruktif, pasif-konstruktif, aktif-destruktif dan pasif-destruktif. Dari 15 item, terdapat 13 item yang valid dengan nilai validitas yang terendah adalah .142 dan nilai tertinggi adalah .439 dan berdasarkan tabel r nilai validitas tersebut kemungkinan kesalahan di bawah .005. Sedangkan nilai reliabilitas (konsistensi internal) diperoleh Alpha .688.

SBHP dikembangkan dari Human Relation Skill Questionnaire (FQQ, Malhi 2004), digunakan untuk mengukur tingkah laku BD, yang terdiri dari aspek global kemampuan individu dalam menjalin hubungan persahabatan dengan orang lain. Sebanyak 15 item dinyatakan valid dengan nilai validitas yang terendah adalah .142 dan nilai tertinggi adalah .439 dan berdasarkan tabel r nilai validitas tersebut kemungkinan kesalahan kurang dari .005. Sedangkan nilai  reliabilitas (konsistensi internal) diperoleh Alpha .688.

Analisis Data Pretes. Penelitian ini terdapat dua kelompok iaitu kelompok intervensi (n=40) yang memperoleh Konseling RKS dan kelompok kontrol (n=40) yang tidak memperoleh Konseling RKS. Sebelum dilakukan intervensi perlu dipastikan bahwa min pretes variabel terikat iaitu perilaku damai (PD) dan subkonstruknya untuk kedua kelompok tidak terdapat perbezaan yang signifikan.

Berdasarkan uji-t, min pretes perilaku damai subjek kelompok eksperimen (M = -.253, SB = 1.944) dan kelompok kontrol (M = .252, SB = 2.559) tidak terdapat perbezaan yang signifikan, t (78) = -.993, p > .05. Dengan demikian, kedua kelompok merupakan kelompok yang homogen. Tidak adanya perbedaan yang signifikan juga terjadi pada ketiga subkonstruk, iaitu subkonstruk AKP sebesar t (78) = -.811, p > .05; StPK sebesar t (78) = -.902, p > .05; dan BD sebesar t (78) = -.540, p > .05. Oleh karena itu, min pretes subkonstruk AKP, StPK dan BD antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol adalah homogen.

Analisis Pretes dan Postes. Sesuai dengan hasil penelitian terdahulu,   intervensi psikologi dan konseling efektif dalam meningkatkan kecenderungan perilaku damai, antaranya dilakukan oleh Clayton et al. (2001), Smith, Daunic, Miller & Robinson (2002), Freire, Koller, Piason & Silva (2005), dan Rogers (1987).Berdasarkan berbagai penelitian di atas hipotesis yang diterbitkan adalah sebagai berikut:

(1)   Terdapat perbedaan yang signifikan perilaku damai remaja kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol.

(2)   Terdapat perbedaan yang signifikan perilaku anti kekerasan kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol.

(3)   Terdapat perbedaan yang signifikan perilaku strategi penyelesaian konflik remaja kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol.

(4)   Terdapat perbedaan yang signifikan tingkah laku membangun perdamaian remaja kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol.

Secara deskriptif diketahui bahawa kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol terdapat perbezaan min pretes dan min postes, baik untuk variabel utama iaitu perilaku damai (M=2.431, SB =.31) mahupun subkonstruk tingkah laku anti kekerasan dan permusuhan (AKP) (M=8.55, SB=204), strategi penyelesaian konflik (StPK) (M=4.95, SB=1.06) dan membangun perdamaian (BD) (M=4.90, SB=1,61). Secara keseluruhan, subjek kelompok eksperimen memiliki min pemdapat terikat lebih tinggi berbanding kelompok kontrol.

Untuk mengetahui diterima atau tidaknya hipotesis tersebut, dilakukan pengujian terhadap hipotesis dengan uji-t. Berdasarkan hasil analisis data disimpulkan bahwa terdapat perbezaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol untuk min variabel perilaku damai, t (78) = 7.913, p < .001; AKP, t (78) = 4.199, p < .001; StPK, t (78) = 4.690, p < .001 dan BD, t (78) = 3.037, p < .01. Dengan keputusan tersebut dapat dirumuskan bahwa Konseling RKS efektif dalam meningkatkan perilaku damai dan subkonstruk AKP, StPK dan BD.

Tabel 2 Ringkasan hasil uji-t melihat efektivitas Konseling RKS terhadap variabel terikat
variabel Kelompok Min SB dk t p
Perilaku damai (PD) EksperimenKawalan 1.216-1.215 1.2591.481 78 7.913*** .000
Anti kekerasan dan permusuhan (AKP) EksperimenKawalan 8.320-.230 8.10310.01 78 4.199*** .000
Strategi penyelesaian konflik (StPK) EksperimenKawalan 3.250-1.700 4.3195.090 78 4.690*** .000
Membangun perdamaian (BD) EksperimenKawalan 2.580-2.330 6.3817.963 78 3.037** .003
**k<.01; ***k≤.001.

Pembahasan. Berdasarkan hasil analisis, Konseling RKS efektif meningkatkan perilaku damai di kalangan remaja. Konseling RKS juga efektif meningkatkan subkonstruk tingkah laku anti kekerasan dan permusuhan (AKP), strategi penyelesaian konflik (StPK) dan membangun perdamaian (BD). Hasil penelitian ini mengandung dua pengertian. Pertama, perilaku damai pada dasarnya dapat ditingkatkan ke peringkat yang lebih tinggi, iaitu dari tingkah laku yang kurang damai menjadi tingkah laku yang lebih damai. Kedua, Konseling RKS merupakan metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku damai dan telah terbukti efektif dalam meningkatkan perilaku damai di kalangan remaja.

Hasil penelitian ini sesuai dengan pandangan Pendekatan Berpusat Person, bahwa konseling dilakukan untuk meningkatkan keadaan klien menjadi kongruens, iaitu keadaan psikologi klien yang keadaannya tidak mengalami konflik internal dan lebih harmonis dalam berhubungan dengan orang lain (Rogers 1961; 1962; 1963). Subjek yang kongruens akan lebih bersikap damai dengan orang lain (Rogers 1987, Barrett-Lennard 1999; Kirschenbaum 2004).

Penelitian oleh Guneri & Cuban (2004) terhadap remaja di Turki, Friere et al. (2005) kepada remaja di Brazil, Cochran, Ballif-Spanvill, & Hunsaker (2000) kepada kanak-kanak di USA membuktikan bahwa intervensi psikologi berpengruh dalam meningkatkan perilaku damai. Penelitian Barret-Lennard (1999) kepada peserta workshop perdamaian yang menggunakan Pendekatan Pemusatan Person di Amerika Latin juga membuktikan bahwa di antara kelompok yang saling bermusuhan dapat saling menerima dan komunikasi setelah mereka mendiskusikan masalahnya secara terbuka. Berbagai intervensi yang dilakukan oleh konselor di antaranya konseling, latihan resolusi konflik dan komunikasi yang empatetik efektif dalam peningkatan tingkah laku subjek menjadi lebih memahami orang lain, menyelesaikan masalahnya secara konstruktif, dan mengembangkan perilaku damai kepada orang lain.

Hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian terdahulu yang dilakukan dengan metode eksperimen (mis. Shechtman & Nachchol 1996) atau meta-analisis (mis. Clyton et al. 2001; Prout & DeMartino 1986; Wilson & Lipsey 2007) atau penelitian eksperimen secara tidak langsung kepada pelajar (mis. Orpinas & Horne 2004). Berbagai penelitian tersebut merumuskan bahwa intervensi oleh konselor yang berbasis pada kegiatan di sekolah dapat mengurangi sikap dan tingkah laku agresif, meningkatkan kemampuan remaja dalam menyelesaikan konflik interpersonal, dan meningkatkan hubungan interpesonal antar mereka. Dengan kata lain, intervensi tersebut dapat meningkatkan kecenderungan remaja untuk berperilaku damai.

Mengapa konseling RKS berpengruh kepada variabel tersebut? Konseling RKS disusun dengan Pendekatan Berpusat Person. Dia menekankan bahwa keadaan terapeutik harus ada dalam proses konseling untuk menyelesaikan masalah klien. Keadaan terapeutik tersebut adalah keadaan konselor yang kongruens, penghargaan tanpa syarat dan empatetik. Keadaan terapeutik tersebut memberikan kebebasan kepada klien untuk katarsis, membebaskan hambatan emosi, lebih terbuka dan bersedia untuk menyelesaikan masalahnya. Faktor terapeutik tersebut selalu ada sepanjang proses konseling (Lampropaulus 2001; Bloch, Reibstein, Crouch, Holroyd & Themen 1979; Rogers 1946, 2007).

Rogers (2007) menegaskan bahwa keadaan terapeutik tersebut harus terjadi pada proses konseling untuk menghasilkan perubahan kepribadian klien. Sesuai dengan laporan diri klien melalui angket yang diberikan setelah konseling berakhir, klien menyatakan bahwa ia merasakan keadaan terapeutik ketika proses konseling iaitu konselor yang kongruens, empati dan memberikan perhatian ketika memperoleh layanan dengan konseling RKS.

Intervensi yang dilakukan secara tidak langsung iaitu intervensi kepada guru juga berpengruh kepada peningkatan tingkah laku positif di kalangan remaja. Penelitian yang dilakukan Zhang (1994), iaitu pelatihan kepada guru mengenai model resolusi konflik yang konstruktif dan belajar kerjasama berpengruh terhadap peningkatan tingkah laku sosial, mengurangi tingkah laku yang mencelakakan pihak lain, lebih bersikap positif kepada pihak lain dan hubungan interpersonal di kalangan pelajar.

Hasil penelitian ini adalah sesuai dengan teori dan hasil penelitian terdahulu mengenai pengaruh intervensi yang berbasis pada program sekolah dapat mengurangi keagresifan dan permusuhan antar pelajar, dapat meningkatkan kemahiran kanak-kanak dan remaja dalam menyelesaikan konflik, dan dapat mengembangkan hubungan sosial antara mereka.

7 IMPLIKASI PENELITIAN

Pengembangan bidang Psikologi Konseling. Kajian ini merupakan satu usaha untuk menghasilkan suatu model konseling yang disusun untuk kasus yang khusus untuk menyelesaikan konflik antar teman sebaya di kalangan remaja. Meskipun penelitian ini dikembangkan dengan pendekatan yang telah ada, tetapi dari segi prosedur dan kasus yang ditangani adalah masalah yang baru. Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan bagi psikologi konseling, khususnya dalam ppenyelesaian konflik antar teman sebaya.

Penerapan Konseling di Sekolah. Selama ini, konseling belum banyak diterapkan untuk menyelesaikan kes konflik antar teman sebaya. Umumnya kasus tersebut diselesaikan dengan prosedur “pengadilan” (arbitrasi). Penelitian ini memberikan sumbangan, bagaimana kasus konflik antar sebaya di kalangan remaja dapat diselesaikan dengan Konseling RKS.

Peningkatan perilaku damai. Banyak dijumpai sekolah yang bermasalah dengan perilaku pelajarnya yang berulang-ulang belakukan perkelahian dan perilaku kurang damai. Sebenarnya UNESCO telah berkampanye keadaan sekolah yang damai, tetapi pelaksanaannya tidak mudah. Penelitian ini memberikan sumbangan bagaimana membangun sekolah yang damai melalui Konseling RKS.

8. KETERBATASAN DAN USULAN UNTUK PENELITIAN MENDATANG

Masalah yang dijumpai dalam penelitian ini antara lain: adanya pelajar yang tidak konsisten dengan kesepatan awal misalnya dia menghentikan proses konseling sebelum seluruh konseling diselesaikan, pelaksanaan konseling dilakukan ketika jam pelajaran yang membuat siswa kurang siap memasuki sesi konseling, waktu pemberian intervensi antara klien yang satu dengan yang lain tidak sama yang memungkinkan dapat berpengaruh kepada hasil penelitian, siswa merasa terganggu dipanggil konselor untuk proses konseling karena dianggap ada masalah baik oleh temannya maupun oleh guru, dan peneliti adalah bertindak sebagai konselor dalam pemberian intervensi. Masalah-masalah tersebut kemungkinan berpengaruh terhadap hasil penelitian.

Untuk penelitian yang akan datang faktor-faktor yang menjadi masalah dalam penelitian ini perlu dipertimbangkan dan diperhatikan untuk keperluan pengurangan bias terhadap hasil penelitian. Dengan demikian hasilnya nanti akan lebih baik. Untuk keperluan validitas eksternal, dalam penelitian yang yang akan datang diharapkan kajian ini diperluas dari segi subjeknya, karakteristik kepribadiannya, latar belakang budaya, jenis konflik dan keadaan keluarga yang dipandang oleh banyak ahli turut mempengaruhi hasil penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Aiken, L.R. 1980. Content validity and reliability of single items or questionnaires. Educational and Psychological Measurement 40: 955-959.

Aryanto, A. 1992. Tinjauan teori Reasoned Action dan Planned Behavior mengenai tingkah laku terlibat dalam perkelahian pada siswa SLTA dan STM di Jakarta. Tesis Master, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia Jakarta.

Bagdonis, A.S. & Salisbury., D.F. 1994. Development validation of models in instructional design. Educational Technology April: 26-32.

Barrett-Lennard, G.T. 1998. Carl Rogers’ helping system: journey and substance. London: Sage Publications

Bertrand, J. 2005. Nationalism and ethnic conflict in Indonesia. London: Cambridge University Press.

Bloch, S., Reibstein, J., Crouch, E., Holroyd, P. & Themen, J. 1979. A method for the study of therapeutic factors in group psychotherapy. British Journal of Psychiatry 134: 257-263.

Borg, W.R. & Gall, M.D. 1983. Educational research: an introduction. Edisi ke-3. New York: David McKay

Brislin, R.W. 1976. Comparative research methodology: cross-cultural study. International Journal of Psychology 11 (3) 215-229.

Buss, A.H. & Perry, M. 1992. The Aggression questionnaire. Journal of Personality and Social Psychology 63: 452-459

Clayton, C.J., Ballif-Spanvill, B. & Hunsaker, M.D. 2001. Preventing violence and teaching peace: lanjutkan. Applied and Preventive Psychology 10: 1-35.

Cochran, J.L., Cochran, N.H., & Hatch, E.J. 2002. Empathetic communication for conflict resolution among children. The Person-Centered Journal 9 (2): 110-118.

Colombijn, F. & Lindblad. 2002. Roots of the violence in Indonesia. Singapura: Institut of Southeast Asia Studies

Davis, M.H., Capabianco, S., & Kraus, L.A. 2004. Measuring conflict-related behaviors: reliability and validity evidence regarding the conflict dynamics profile. Educational & Psychological Measurement 64 (4): 707-731

Deutsch, M. 1993. Educating for a Peaceful World. American Psychologist. 48 (5): 510-517

Druckman, D. 2005. Doing Research: methods of inquiry for conflict analysis. Oaks/California: Sage Publication.

Freire, E.S., Koller, S.H., Piason, A., & Silva, R.B. 2005. Person-Centered Therapy with impoverished, maltreated, and neglected children and adolescents in Brazil. Journal of Mental Health Counseling 27 (3) 225+. http://www.questia.com/ PM.qst?a [20 November 2006]

Gani, A.H. 2000. Konflik dan kejahatan kekerasan antarkelompok di terminal bus antarkota Kampung Rambutan Jakarta Timur. Tesis Mater Universitas Indonesia Jakarta.

Gerstein, L.H. & Moeschberger, S.L. 2003. Building culture of peace: an urgent task for counseling professionals. Journal of Counseling and Development 81 (1): 115-119.

Gerstein, L.H. & Moeschberger, S.L. 2003. Building culture of peace: an urgent task for counseling professionals. Journal of Counseling and Development 81 (1): 115-119.

Guneri, Y. & Coban, R. 2004. The effect of conflict resolution training on Turkish elementary school students: a quasi-experimental investigation. International Journal for the Advancement of Counseling 26 (2) 109-124.

Habib, A. 2004. Konflik antaretnik di pedesaan: Pasang surut hubungan Cina-Jawa. Yogyakarta: LKIS.

Johnson, D.W. & Johnson, R.T. 1994. Constructive conflict in the schools. Journal of Social Issues 50 (1): 117-137.

Johnson, D.W. & Johnson, R.T. 1995. Teaching student to be peacemaker: Results of five years of research. Peace and Conflict: Journal of Peace Psychology 1 (4): 438+ http://www.questia.com/ PM.qst?a=o&d=76938931

Johnson, D.W., Johnson, R.T., Dudley, B., & Acikgos, K. 1994. Effect of conflict resolution training on elementary school students. Journal of Social Psychology 134 (6): 803-817

Kirschenbaum, H. 2004. Carl Rogers’s life and work an assessment on the 100th anniversary of his birth. Journal of Counseling and Development 82 (1) 116+.

Lampropoulus, G.K. 2001. Common processes of change in psychotherapy and seven other social interactions. British Journal of Guidance and Counselling 29 (1): 21-33.

Latipun. 2005. Penanganan sekolah terhadap konflik antar remaja. Laporan Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang.

Laursen, B., Finkelstein, B.D., Betts, N.T. 2001. A developmental meta-analysis of peer conflict resolution. Developmental Review 21: 423-449.

Maher, C.A. 1986. Evaluation of a program for improving conflict management skills of special services directors. Journal of School Psychology 24: 45-53.

Malhi, R.S. 2004. Enhancing personal quality. Kuala Lumpur: TQM Consultants SDN. Bhd.

Marxt, C. & Hacklin, F. 2005. Design, product development, innovation: all the same in the end? A short discussion on terminology. Journal of Engineering Design 16 (4): 413-421.

Matindas, R. 1996. Tawuran pelajar: produk usang dalam kemasan baru. Tempo, 20 Apr 1996

Moonen, J. 1999. The design and prototyping of digital learning material: some new perspectives. Dlm. van den Akker, J., Branch, R.M., Gustafson, K., Nieveen, N., & Plomp, T. (pnyt.). Design approaches and tools in educational and training (hlm. 95-112). Dordrecht: Kluwer Academic Publisher.

Nelson, L.L. & Christie, D.J. 1995. Peace in the psychology curriculum: moving from assimilation to accommodation. Peace and Conflict: Journal of Peace Psychology 1 (2): 161-178.

Newman, R.S., Murray, B., & Lussier, C. 2001. Confrontation with aggressive peers at school: Student’ reluctance to seek help from the teacher. Journal of Educational Psychology 93 (2): 398-410

Nieveen, N. 1999. Prototype to reach product quality. Dlm. van den Akker, J., Branch, R.M., Gustafson, K., Nieveen, N., & Plomp, T. (pnyt.). Design approaches and tools in educational and training (hlm. 125-135). Dordrecht: Kluwer Academic Publisher.

Orpinas, P. & Horne, A.M. 2004. A teacher-focused approach to prevent and reduce students’ aggressive behavior: the GREAT teacher program. American Journal of Preventive Medicine 26 (1S): 29-38.

Page, R.M., & Hammermeister, J. 1997. Weapon-carrying and youth violence. Adolescence 32 (127): 505-513.

Prout, H.T. & DeMartino, R.A. 1986. A Meta-analysis of school-based studies of psychotherapy. Journal of School Psychology 24: 285-292.

Rais, M.F. 1997. Tindak pidana perkelahian pelajar. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Ratnawati, T. 2006. Maluku: dalam catatan seorang peneliti. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Richey, R.C., Klein, J.D., & Nelson, W.A. 2004. Developmental Research. Dlm. Jonassen, D.H. (pnyt.) Handbook of research on educational communications and technology. Edisi ke 2, hlm. 1099-1130. Mahwah, NJ. Lawrence Erlbaum Ass.

Rogers, C.R. 1946. Significant aspect of Client-Centered Therapy. American Psychologist 1: 415-233. Online: http//psychclassic.yorku.ca/Rogers

Rogers, C.R. 1961. On becoming a person. Boston: Houghton Mifflin Co.

Rogers, C.R. 1962. The Interpersonal relationship: the core guidance. Harvard Educational Review 32 (2): 416-429.

Rogers, C.R. 1963. The concept of the fully functioning person. Psychotherapy: Theory, Research, Practice 1 (1): 17-26.

Rogers, C.R. 1987. The understanding theory: drawn from experience with individual and group. Counseling and Values 32 (1): 38-46.

Rogers, C.R. 2007. The necessary and sufficient conditions of therapeutic personality change. Psychotherapy: Theory, Research, Practice, Training 44 (3): 240-248 (cetak ulang Journal of Consulting Paychology 21: 95-103.

Shechtman, Z & Nachshol, R. 1996. A school-based intervention to reduce aggressive behavior in maladjusted adolescents. Journal of Applied Developmental Psychology 17: 535-552.

Smith, S.W., Daunic, A.P., Miller, M.D., & Robinson, T.R. 2002. Conflict resolution and peer mediation in middle schools: extending the process and outcome knowledge base. The Journal of Social Psychology 142 (5) 567-586.

Theberge, S.K. & Karan, O.C. 2004. Six factors inhibiting the use of peer mediation in a Junior High School. Professional School Counseling 7 (4): 283-290.

Valcke, M., Kirschner, P., & Bos, E. 1999. Enabling technologies to design, produce and exploit flexible, electronic learning material. Dlm. van den Akker, J., Branch, R.M., Gustafson, K., Nieveen, N., & Plomp, T (pnyt.). Design approaches and tools in educational and training (hlm. 249-264). Dordrecht: Kluwer Academic Publisher

van den Akker, J. 1999. Principles and method of development research. Dlm. van den Akker, J., Branch, R.M., Gustafson, K., Nieveen, N., & Plomp, T. (pnyt.). Design approaches and tools in educational and training, hlm. 1-14. Dordrecht: Kluwer Academic Publisher.

Wilson, S.J. & Lipsey, M.W. 2007. School-based interventions for aggressive and disruptive behavior. American Journal of Preventive Medicine 33: S131-S143.

Zhang, Q. 1994. An Intervention model of constructive conflict resolution and cooperative learning. Journal of Social Issues 50 (1): 99-116

Add a comment Juni 3, 2010

TIPS MENJAUHI NARKOBA

Tips Cara Menjauhi/Menghindari Narkoba/Narkotika Ajakan Menjadi Pemakai Barang Haram / Setan
Mon, 27/10/2008 – 1:01am — godam64

Katakan tidak pada narkoba! Hanya orang bodoh yang bisa masuk ke dalam jeratan narkoba, zat dan obat-obatan terlarang. Para pengedar dan pembuat barang-barang setan tersebut akan melakukan berbagai promosi bujuk rayu menjebak mereka kepada orang-orang yang lemah iman dan tidak punya akal sehat untuk menjadi budak mereka.

Orang-orang yang sudah terkena narkoba bisa dibilang mayat hidup karena mereka seperti budak di mana jika dia tidak bisa mendapatkan barang haram tersebut dia akan rela melakukan apa pun yang kita inginkan jika kita memiliki barang haram itu. Efek kecanduan / ketagihan pada narkoba menyebabkan seseorang tidak konsen untuk menjalani hidupnya karena yang dipikirkan hanya bagaimana cara agar bisa mengkonsumsi narkoba terus menerus.

Berikut ini adalah tips bagi anda untuk memperkuat benteng dalam melawan narkoba yang mungkin anda akan butuhkan suatu saat nanti :

1. Pandai Memilih Teman / Pergaulan

Pergaulan yang salah bisa menyebabkan kita terperosok sehingga kita harus berhati-hati dengan teman-teman kita sendiri. Kita pun harus berani mengatakan tidak pada narkoba serta meninggalkan kawan-kawan kita yang dapat merusak kita.

Carilah teman yang baru jika teman yang lama hanya berupaya menjerumuskan kita ke lubang yang dalam. Jika perlu pilih kawan yang biasa-biasa saja walaupun culun dan katro. Bergaul dengan orang saleh / soleh umumnya bisa menyelamatkan kita dari jerat narkoba.

2. Belajar Membedakan Yang Baik Dan Yang Salah

Kita harus tahu, berani mengambil sikap dan konsisten pada berbagai hal di dunia ini. Jika kita tidak mampu mengambil sikap yang terbaik bagi kita sendiri, maka setan-setan yang ada di sekitar kitalah yang akan menentukan nasib kita selanjutnya. Jika sudah jelas itu narkoba dan teman kita ajak kita pakai itu, ya tolak ajakannya, segera tinggalkan dia dan blacklist dia dari kehidupan kita agar kita. Ambil keputusan dengan cepat dan tepat sebelum dia menguasai pikiran kita dan akhirnya berani coba-coba.

3. Tingkatkan Iman dan Taqwa Kita Kepada Tuhan YME

Memakai narkoba itu dosa karena hanya menyakiti dan merusak tubuh dan pikiran kita sendiri. Dengan dosa yang terakumulasi sedemikian besar maka setelah mati kita akan masuk neraka. Narkoba juga menjauhkan kita dari Tuhan karena di otak kita hanya narkoba dan narkoba lagi dan lagi.

4. Berhubungan Dengan Narkoba Itu Perbuatan Kriminal

Kita harus takut pada narkoba karena kalau polisi tahu kita memakai narkoba kita bisa langsung dilempar ke penjara yang sunyi, dingin dan menakutkan. Dipenjara itu tidak enak karena kita akan disiksa oleh penghuni tahanan lainnya serta diperas oknum dan penjahat lainnya.

5. Narkoba Adalah Candu Yang Menjadikan Kita Budak Setan

Sekali kita pakai narkoba maka selamanya kita akan ketergantungan pada benda haram tersebut. Kita saja tidak ketergantungan pada nasi karena bisa makan mie. Tapi untuk kasus narkoba kita tidak bisa mencari alternatif karena yang kita harus lakukan hanyalah pakai narkoba terus menerus sampai mati. Dengan menjadi budak kita akan lebih mudah disetir orang yang punya narkoba karena jika kita butuh dan hanya dia yang punya barang, maka kita bisa menyerahkan seluruh harta dan nama baik kita untuk sedikit barang haram.

6. Narkoba Hanya Membuat Rugi

Narkoba itu mahal, sulit didapat, merusak akal sehat, merusak pikiran, berpotensi membunuh kita, membuat kita tampil bodoh, bisa membuat kita masuk penjara, masuk neraka, menghancurkan raga kita, menghancurkan hubungan keluarga dan orang lain, dan lain sebagianya. Narkoba tidak ada untungnya karena keuntungan yang diberikan hanyalah semu yang sementara namun duka yang mendalam berada di baliknya.

7. Terus Mengikuti Informasi

Modus-modus baru mungkin dapat bermunculan setiap saat. Hati-hati dan jangan sampai kita terjebak karena kita tidak tanggap atas hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Jaga anggota keluarga kita dengan menginformasikan mereka tentang narkoba yang terjadi di lingkungan sekitar.

Semoga anda selalu terbebas dari narkoba dan zat adiktif lainnya.

Add a comment Juni 3, 2010

DAMPAK PERGAULAN BEBAS PADA REMAJA

musliims ini mengenai tentang NARKOBA
DAMPAK PERGAULAN BEBAS BAGI REMAJA
Diposkan oleh Abdul Rauf on Senin, 15 September 2008

Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekhawatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orangtuanya.

Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS.

Sekarang ini zaman globalisasi. Remaja harus diselamatkan dari globalisasi. Karena globalisasi ini ibaratnya kebebasan dari segala aspek. Sehingga banyak kebudayaan-kebudayaan yang asing yang masuk. Sementara tidak cocok dengan kebudayaan kita. Sebagai contoh kebudayaan free sex itu tidak cocok dengan kebudayaan kita.

Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.

Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.

Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Misalnya, ketika orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya kepada orangtua.

Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.

Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Celakanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius. Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi dua puluh persen pada tahun 2000. Kisaran angka tersebut, kata Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di pulau Palu, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pranikah mencapai 29,9 persen.

Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnya pengetahuan remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara.

Dari sisi kesehatan, perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan. Diantaranya, terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Selain tentunya kecenderungan untuk aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak diinginkan. Keadaan ini juga bisa dijadikan bahan pertanyaan tentang kualitas anak tersebut, apabila ibunya sudah tidak menghendaki. Seks pranikah, lanjut Boyke juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat.

Sekuat-kuatnya mental seorang remaja untuk tidak tergoda pola hidup seks bebas, kalau terus-menerus mengalami godaan dan dalam kondisi sangat bebas dari kontrol, tentu suatu saat akan tergoda pula untuk melakukannya. Godaan semacam itu terasa lebih berat lagi bagi remaja yang memang benteng mental dan keagamaannya tidak begitu kuat. Saat ini untuk menekankan jumlah pelaku seks bebas-terutama di kalangan remaja-bukan hanya membentengi diri mereka dengan unsur agama yang kuat, juga dibentengi dengan pendampingan orang tua dan selektivitas dalam memilih teman-teman. Karena ada kecenderungan remaja lebih terbuka kepada teman dekatnya ketimbang dengan orang tua sendiri.

Selain itu, sudah saatnya di kalangan remaja diberikan suatu bekal pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan seks secara vulgar. Pendidikan Kesehatan Reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak remaja ini bisa terhindar dari percobaan melakukan seks bebas. Dalam keterpurukan dunia remaja saat ini, anehnya banyak orang tua yang cuek bebek saja terhadap perkembangan anak-anaknya. Kini tak sedikit orang tua dengan alasan sibuk karena termasuk tipe “jarum super” alias jarang di rumah suka pergi; lebih senang menitipkan anaknya di babby sitter. Udah gedean dikit di sekolahin di sekolah yang mahal tapi miskin nilai-nilai agama.

Acara televisi begitu berjibun dengan tayangan yang bikin ‘gerah’, Video klip lagu dangdut saja, saat ini makin berani pamer aurat dan adegan-adegan yang bikin dek-dekan jantung para lelaki. Belum lagi tayangan film yang bikin otak remaja teracuni dengan pesan sesatnya. Ditambah lagi, maraknya tabloid dan majalah yang memajang gambar “sekwilda”, alias sekitar wilayah dada; dan gambar “bupati”, alias buka paha tinggi-tinggi. Konyolnya, pendidikan agama di sekolah-sekolah ternyata tidak menggugah kesadaran remaja untuk kritis dan inovatif.

Add a comment Juni 3, 2010

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Desember 2016
S S R K J S M
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts